Tampilkan postingan dengan label Lain-lain deh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain deh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2016

(Cerpen Ke-2) Gadis Sabtu Malam



Cerpen kedua ini saya tulis dengan harapan terus bisa menambah skill saya menulis. Jelek? Nggak apa-apa, yang penting unjuk gigi dulu. Hihihi #meringis.

Gadis Sabtu Malam, kenapa nggak gadis malam minggu aja? Sorry ya, di kamus jones (baca : jomblo with happiness) adanya sabtu malam. Kalo malam minggu sih, suka hujan soalnya. Lah, apa hubungannya? Nggak ada. Hahaha. Oiya, cerpen ini terinspirasi dari saya sendiri yang suka duduk di tempat itu-itu melulu kalo lagi galau. Dan ceritanya, nih gadis sabtu malam ini bencinya membabi-buta ya. Kasihan, padahal babi aja nggak buta. Oke, silahkan dibaca. Yang nggak kuat silahkan lambaikan tangan, tutup, silahkan main ke postingan lain. Karena cerpen ini nggak menghibur. Hihihi.


Gadis Sabtu Malam

Sabtu, 17 Oktober

“Thanks ya, Jo... Kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana performnya. Kita ditinggal Ibnu libur,  sih...” Kata Melly sambil menepuk bahuku. Aku mengacungkan jempol tanda tak masalah pada  vokalis yang juga temanku sedari masih di sekolah dasar.

“Mel...” Ujarku pelan.

Melly mengangkat kedua alisnya, “Hmm...”

“Ibnu kenapa sih?” Aku penasaran dengan drummer berkacamata yang kugantikan itu.

“Nggak tau. Tiba-tiba aja minta digantiin kalo perform disini. Padahal disini salarynya lumayan lho.  Cuma sabtu malam juga acaranya,”

“Oohh...”

Melly menatapku keheranan. “Kamu kenapa sih, Jo?”

Aku menggeleng. “Mungkin aku salah lihat, Mel...”

“Lihat apa sih?”

“Cewek, Mel...”

Melly tertawa sambil memukul-mukul pundakku. “Yaelah Jo... Kalo manggung beneran sih emang banyak cewek yang nonton kali... Jangan norak gitu donk... Masa pecinta wanita kayak gitu?”


Benar juga apa yang dikatakan Melly. Saat manggung pasti banyak penonton, termasuk cewek-cewek. Yah, paling enggak dengan begini koleksi bisa nambah nih. Dista, Leni, Ajeng... Hmm... siapa lagi ya?

Sabtu, 24 Oktober

“Ada yang mau request lagu lagi?” Melly menyapa para penonton yang berada di kawasan wisata keluarga tempatku dan dia perform dalam satu band. Memang kawasan ini setiap harinya hanya buka sampai pukul 5 sore, dan khusus sabtu buka sampai pukul 09.30 malam.

Berbeda dengan Melly dan kawan-kawannya, hari ini adalah penampilan keduaku disini. Salah seorang kawan Melly, Ibnu, mendadak ingin digantikan tiap ada perform disini. Aku yang masih menganggur pasca lulus sarjana, diajak Melly bergabung menggantikan Ibnu untuk sementara sebagai penggebuk drum sampai mereka benar-benar menemukan pengganti Ibnu.

“Oke, kita nyanyi bareng-bareng ya....” Melly pun menggiring penonton untuk berpartisipasi dalam lagu kali ini. Aku pun unjuk gigi, memamerkan keahlianku menggebuk drum.

“Kyaaaa.... Johan... Johaaaannn...” Rasanya puas sekali ketika cewek-cewek itu meneriaki namaku. Mungkin ada yang bisa diajak hang out.

Lagi-lagi, mataku terpaku di arah jam sebelas. Aku berusaha untuk mengacuhkannya. Banyak cewek yang lebih menarik, kenapa mesti terpaku padanya? Rupanya tidak. kehadirannya cukup menyita perhatianku. Pasalnya, dalam riuhnya acara ini, tidak sedikit pun ada tanda-tanda baginya untuk melebur bersama penonton lain. Terlalu ganjil bagiku.

Sabtu, 31 Oktober

Kali ini aku sengaja datang paling cepat. Aku penasaran dengan sosok itu. Aku ingin melihatnya datang karena aku tidak pernah tahu kapan dia datang, bahkan kapan dia pulang. Ya, sosok perempuan yang sudah dua kali ini aku lihat duduk di arah jam sebelas, menghadap ke timur sedangkan panggung ada di sebelah selatan.

“Jo... Rajin amat lo...” Sapa Bang Hilmi, gitaris. Lelaki berpostur tinggi dan kerempeng dan berambut gondrong yang lebih dulu manggung disini ini memang sangat ramah. Bahkan dia yang mereferensikan aku kepada teman-temannya setelah usulan Melly pastinya.

“Eh, anu Bang.... Lagi kepingin check sound aja.” Jawabku sekenanya. Bang Hilmi tak bertanya lebih jauh lagi. Dia asyik menyetel gitar kesayangannya.

“Eh, kalo gue perhatiin... Elo sama Ibnu hampir-hampir mirip ya?”

“Ah, masa sih Bang?”

“Iya... Bentuk hidung lo, rambut lo, kacamata lo juga mirip deh. Pas bener deh si Melly itu pilih elo  jadi gantinya Ibnu.”

“Ah, Bang Hilmi bisa aja deh...”

Penonton sudah mulai ramai. Tapi tak ku jumpai juga perempuan itu. Sampai akhirnya pada pertengahan pertunjukan, mataku kembali menangkap sosok perempuan itu. Berkulit putih dan rambut hitam, lurus sebahu dan dibiarkannya tergerai. Ada sebuah jepit bunga berwarna putih di rambutnya, yang aku sendiri tak yakin bunga apa itu. Perempuan itu memakai baju lengan panjang putih yang bermotif bunga-bunga, rok panjang warna hitam, serta sepasang flat shoes warna putih. Sayangnya aku tak berhasil menangkap wajahnya. Hanya hidung mancungnya saja yang terlihat olehku.

“Joooooo.... Main Jo,” Bisik Bang Hilmi padaku.

“Eh, oh... Sorry Bang...”

Dan, lagu Ku Katakan Indah milik Peter Pan pun mengalun.

Sabtu, 7 November

“Hah? Cewek? Disini banyak cewek kali, Jo...”

“Cewek arah jam sebelas Mel... Dia selalu duduk di situ kok.”

“Emangnya cewek itu kenapa, Jo? Dista, Leni, Ajeng kamu taruh dimana?”

“Nggak ditaruh dimana-mana kali, Mel.. Tapi tuh cewek aneh bener kok.”

“Aneh gimana? Lebih aneh kamu, Jo... Pacar udah 3 masih aja audisi lagi,”

Hah! Melly memang benar. Kurang apa aku dengan mereka bertiga? Cantik, seksi, smart, fashionable, dan yang pasti mereka nggak tau kalau cintaku terbagi 3, bahkan kadang-kadang bisa terbagi banyak juga.

“Kamu salah lihat kali, di belakangnya kan ada bangku penonton juga. Kalo ada cewek aneh, pasti  semua pada lihat lah,”

“Tapi dia selalu nggak pernah perhatiin panggung, hadap timur melulu...”

“Udah, nggak usah dipikirin... Mungkin lagi galau,”

Melly pun beranjak. “Makan, yuk... Laper nih.”

Aku pun mengekor di belakang Melly. Memang benar juga apa yang Melly bilang. Mestinya pengunjung lain akan memandang aneh kalo perempuan itu memang ganjil. Tapi semua tampak biasa-biasa saja, mungkin aku yang salah melihat.

Sabtu, 14 November

Kali ini mataku tak mungkin salah lagi. Perempuan itu. Dia benar-benar ada di sana. Duduk menyendiri di arah jam sebelas, dan menghadap ke timur.

“Mel.. Melly... Mel...” Yang dipanggil pun menoleh. “Apa?” Tanyanya.

Dengan percaya diri, aku menunjuk ke arah jam sebelas. “Tuh, cewek aneh lagi duduk disitu tuh...”

Melly mengarahkan matanya ke arah yang ku tunjuk. Lalu dia menoleh kembali ke arahku dan tersenyum tipis. Kepalanya mengangguk-angguk. Sepertinya dia sepakat denganku kalo perempuan itu memang ada yang tak beres.

Kali ini aku menang. Apa aku bilang? Gadis itu memang beda. Boleh juga tuh. Sudah kuputuskan, aku akan menghampiri perempuan itu. Setidaknya, aku tahu namanya dan kapan dia beranjak pulang. Dan, ada puluhan pertanyaan lain yang ingin kutanyakan padanya.

“Oke teman-teman semua yang ada disini, terimakasih telah datang kemari menyaksikan pertunjukan  kami... Sampai jumpa lagi minggu depan...” Melly menutup acara.

Sip. Dia masih ada disana. Aku segera beranjak menuju bangku perempuan itu. Tapi, ah... Desakan penonton yang ingin keluar menghalangi pandanganku. Dan, begitu aku tiba di bangku yang tadinya diduduki perempuan itu... Nihil. Dia sudah tidak ada di tempatnya.

Aku malah semakin penasaran dibuatnya. Tak apa, pikirku. Minggu depan aku pasti berhasil. Ya, pasti berhasil. Gadis sabtu malam itu, aku pasti bisa mengenalnya.

“Mencari siapa, Mas Jo?” Seorang pria paruh baya menanyaiku. Pak Mul namanya. Beliau sudah  lama bekerja sebagai keamanan disini.

“Eh, nggak kok Pak Mul... Nggak ada,”

Sabtu, 21 November

Pokoknya hari ini harus berhasil. Setidaknya aku tau nama perempuan itu. Demi memuluskan langkahku, kali ini aku mencoba melobi Bang Hilmi.

“Gimana, Bang? Pliss deh... Pokoknya kali ini, minimal tau nama tuh cewek deh...”

Bang Hilmi mangut-mangut. Entah apa yang merasukiku, bagaimanapun juga aku terlalu dibuat penasaran oleh gadis sabtu malam itu.

“Jadi demi cewek?” Tanya Bang Hilmi memperjelas suasana. Diambilnya sebatang rokok dari saku  kemejanya.

Aku mengangguk semangat.

“Entar aku kenalin cewek deh, Bang...”

Bang Hilmi berpikir sejenak. “Lah, terus... Bini gue?” Kali ini dinyalakannya korek api, dan disulutkan ke sebatang rokok yang kini sudah menempel di bibir hitamnya.

“Bang Hilmi udah punya istri?”

“Anak gue udah satu biji tuh...”

Ternyata dibalik penampilannya yang sangar, diam-diam Bang Hilmi laki-laki yang setia pada istri. “Jadi gimana Bang? Bisa bantuin nggak nih?”

Laki-laki kurus itu menaikkan alisnya, menghisap batang tembakau di bibirnya, dan menghembuskan asapnya. Aku pun tertawa menang.

Berkat bantuan Bang Hilmi, aku berhasil bolos satu lagu. Aku pun bergegas menuju ke arah perempuan yang sedari tadi menghadap timur itu. Perempuan yang, hei... Kenapa aku baru menyadari kalau pakaian yang dikenakannya dari sabtu malam pertama hingga seterusnya sama? Bukan Johan namanya kalau mundur sekarang.

“Hei... cewek...” Aku mencoba menyapanya. Perempuan itu tak bergeming. Satu kata pun tak keluar dari bibir indahnya yang merah ranum. Tunggu, bukan merah. Tapi pucat. Pucat?

“Haloo, si cewek sabtu malam,” Aku masih tetap beraksi. Bukan Johan namanya kalau tak mampu memikat hati para cewek-cewek.

“Boleh duduk, ya...” Kataku sambil meraih kursi di depannya dan bersiap duduk. Akhirnya, aku bisa melihat wajahnya. Eh, tapi?

“Bruuukkkk !!!” Hal yang terakhir kudengar adalah jeritan penonton di dekatku.

***

“Jo... Jo... Bangun, Jo...!” Itu sudah jelas suara Melly. Bangun? Oh iya, kepalaku masih pusing.

“Tadi dia bilang mau nyamperin cewek yang duduk di sebelah sana tuh...” Kali ini suara Bang Hilmi.

“Nih anak matanya udah katarak kali... Perasaan nggak ada siapa-siapa deh di sana,” Kali ini suara Melly lagi.

“Cewek? Kayaknya si Ibnu pernah tanya gitu juga ke gue, Mel...” Akhirnya Bang Nunu, sang keyboardist pun ikut bersuara.

“Nih anak dari kemarin ngotot ke aku kalo di situ ada cewek duduk sendirian, Bang... Padahal  kayaknya nggak ada sih... Cewek kan banyak disini, jadi aku iya-in aja, deh,” Melly bersuara lagi.

“Lho? Aku kenapa ya?” tanyaku pada mereka. Rasanya kepalaku berat, dan mataku berkunang-kunang.

“Jo... Ya ampuunn... Kamu sakit?”

“Enggak, kok Mel... Aku baik-baik aja. Acaranya udah selesai nih?” Semuanya mengangguk.

Cewek itu? Dimana dia? Kuarahkan mataku ke tempat duduknya tadi. Tidak ada. Bukankah aku tadi berhasil duduk di depannya? Di depannya. Tak salah lagi. Lalu kenapa tiba-tiba? Setelahnya aku tak ingat apa-apa dan tiba-tiba aku sudah begini.

Sabtu, 28 November

Aku sengaja datang paling awal lagi. Kali ini aku memang ingin menangkap lagi perempuan itu. Siapa dia? Kenapa ada disini setiap Sabtu malam? Dan kenapa aku pingsan dibuatnya? Semakin banyaklah pertanyaan yang menumpuk di kepalaku.

“Mas Jo...” Sapa seorang pria paruh baya. Pak Mul, rupanya.

“Kok jam segini sudah datang? Mau checksound?” Tanya beliau ramah.

Aku menggeleng. “Bukan, Pak... Sebenarnya, saya pengen ketemu cewek.”

“Ahhh... Pacarnya Mas Jo?”

Aku menggeleng lagi. “Pengunjung sini Pak Mul... Pasti bapak tau, deh...”

Pak Mul meninggikan alisnya. “Yang mana, Mas?”

“Sebelah situ.” Jawabku sambil mengarahkan telunjukku ke arah tempat yang biasanya diduduki perempuan berjepit bunga itu.

Pak Mul mengangguk-angguk. Sejurus kemudian, menatap aneh padaku. “Mas Jo yakin melihat perempuan disitu?”

Aku mengangguk mantap. “Ya. Pakai baju putih lengan panjang motif bunga, rok hitam, sepatu putih, sama jepit bunga.”

Pak Mul menarik napas. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah jam sebelas, bangku yang biasa diduduki oleh gadis sabtu malam yang misterius.

“Namanya Kirana, Mas. Gadis itu memang pendiam, tapi baik dan ramah. Dulunya dia penonton setia acara sabtu malam disini.” Terang Pak Mul.

“Ohhh...” Aku mengangguk-angguk saja. Akhirnya tau juga nama perempuan misterius itu. “Kirana  ya. Bagus ya namanya.”

Pak Mul tersenyum, sekaligus menatapku aneh. Aneh? Tunggu dulu. Dulunya?

“Kok dulunya sih, Pak Mul? Memangnya sekarang enggak? Kayaknya tiap sabtu malam pasti ada  disitu tuh,”

“Kirana memang senang duduk disitu, Mas... Alasannya biar bisa lihat drummernya dengan jelas.”

Jadi itu maksudnya. Pantas saja posisinya begitu terlihat jelas olehku.

“Pacarnya Kirana drummer yang sering main disitu.”

“Ibnu?”

“Bukan, Mas Jo... Namanya Panji. Band mas Panji dulu pengisi tetap acara ini sebelum mbak Melly  dan teman-temannya.”

“Panji? Panji dari band Pooh Bears itu?”

Pak Mul mengangguk.

Gila! Kirana yang pendiam itu pacarnya Panji. Walaupun aku tidak kenal Panji Pooh Bears, tapi reputasinya menggema kemana-mana. Panji amat populer di kalangan wanita-wanita. Entah sudah berapa banyak wanita yang “digagahi” oleh Panji. Ah, kasian betul Kirana.

“Eh, tapi kan Panji udah almarhum Pak Mul... Jadi Kirana disini ngapain? Mengenang Panji?  Mencari pengganti Panji?”

“Sepertinya bukan.”

Aku semakin keheranan. “Maksud Pak Mul?”

“Mas Ibnu juga sepertinya melihat Kirana. Beda dengan Mas Jo yang langsung menyadari adanya Kirana, Mas Ibnu menyadari ada Kirana baru-baru ini. Tepatnya sebelum digantikan sama Mas Jo.”

“Jadi, Kirana mau ngecengin drummer-drummer disini?” Ah, susah sekali menerka maksud Kirana.

Pak Mul menarik napas panjang. “Mungkin Kirana suka sama kalian, Mas...”

“Lalu Pak Mul, sekarang Kirana itu dimana?”

Pak Mul menjawab pendek saja. “Sudah almarhum.” Kemudian kembali beliau meneruskan rutinitasnya.

Jantungku berdesir kencang. Tanpa dikomando, mataku sudah menyapu bangku penonton dan melihat bangku Kirana itu. Bulu kudukku berdiri. Sesosok perempuan berbaju putih lengan panjang bermotif bunga, rok hitam, sepatu putih, dan jepit bunga itu sudah duduk disana dan menatapku.. Akhirnya kami bertatapan untuk pertama kalinya. Bukan seperti yang dikatakan Pak Mul. Sorot mata Kirana itu bukan suka, apalagi cinta. Sorot mata itu adalah amarah dan kebencian.

Mendadak aku teringat sesuatu. Benang merah yang menghubungkan Panji, Ibnu, dan aku. Kami bertiga sama-sama pemain drum,  berkacamata, dan... sama-sama penggila wanita. Tiba-tiba aku teringat headline koran yang mengabarkan kematian Panji. “Seorang pemain band tewas digorok lehernya oleh sang pacar. Motifnya diduga kuat cemburu buta. Sang pacar yang ditemukan dengan leher bersimbah darah kini sedang dalam kondisi kritis.”

Dan, Kirana pun masih duduk diam disitu, menatapku tajam seolah bersiap menumpahkan segala amarah yang dipendamnya. Kirana, si gadis sabtu malam.



#tamat

Senin, 22 Februari 2016

Cerpen Pertama (By Request) #Part 1

Tema cerpen yang di request -_-

Cerpen pertama ini adalah request dari orang yang kepo banget sama kisah asmara saya. Karena saya ini baik hati dan nggak sombong, jadi saya terima requestnya. Alih-alih bikin cerpen yang bagus, cerpen yang saya bikin masih ngasal, acak-adut, dan segudang borok-borok lainnya deh. Maklum, lagi baper, jadi cerpennya rada gimana gitu. Hehehe.

Oiya, tapiii.... Cerpen ini bukan curhat loh ya. Bukan juga kisah nyata. Pokoknya kisah ini hanya fiktif belaka. Kalo ada yang merasa karakternya mirip sama karakter cerpen saya, itu adalah kesengajaan. Hahahaha. Soalnya saya bingung bikin karakter. Hikss.... Dan, yang pasti... Cerpen ini nggak mneghibur. Silahkan lambaikan tangan, dan pilih postingan lainnya. Okee, siipp !!!


Sejauh Matahari (Part 1)

“Ibuk nggak mau tau. Pokoknya pulang!! Ibu sudah ketemu yang cocok buat kamu,” Wanita di        seberang telepon itu terdengar kesal karena gadis itu selalu menolak permintaannya.

“Lita nggak libur, Buk...” Lalita, gadis itu, nampak mencari-cari alasan. Kembali menolak  permintaan wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan itu.

“Ya sudah terserah kamu. Pokoknya kali ini kalo nggak pulang, sudah nggak usah pulang aja sekalian  !” Suara wanita itu sudah tidak terdengar lagi berganti dengan nada “tut” tanda panggilan telah di akhiri. Lalita terdiam, kemudian membalikkan badan hendak masuk ke dalam, mengambil tasnya lalu pulang.

“Berantem lagi?” Wira, seniornya yang masih belum pulang itu seperti bisa menebak ekspresi Lalita.  Dan seperti biasa, Lalita hanya akan menjawab dengan diam, dan menyunggingkan senyum yang  dipaksakan.

“Pulang sana!! Kamu terlalu lama disini,” Lagi-lagi, Wira seolah bisa menebak isi hati Lalita. “Mau sampai kapan kamu jadi tenaga sukarelawan di sini?”

Lalita menggeleng. Menjawab dua pertanyaan pemuda itu sekaligus. Yang pertama dia menolak pulang, dan yang kedua dia pun tidak tahu sampai kapan akan tetap berada di tempat itu.

“Lalita itu artinya ceria. Ibu kamu ingin putrinya yang manis ini jadi gadis yang ceria, bukan  perenung dan pendiam kayak gini,”

Lalita mengangguk. Tiga tahun lalu, ada yang mengatakan hal yang persis seperti yang dikatakan Wira. Sama dengan Wira, dia juga adalah seorang pemuda. Pemuda yang pernah menyelamatkannya dari jurang kesepian, dan pada pemuda itulah Lalita lalu menitipkan separuh jiwanya.

“Nah, kamu diam lagi.” Suara khas Wira membuyarkan lamunan Lalita.

“Eh, maaf Mas Wira... Sudah sore, aku mau pulang dulu...” Lalita berusaha menghindar sebelum  seniornya di puskesmas itu membaca pikirannya lebih jauh lagi.

“Besok kamu nggak usah masuk. Aku yang bertanggung jawab. Lagipula kamu disini nggak dibayar, kamu juga belum pernah ambil cuti.” Wira pun turut mengemasi barang-barangnya, dan berniat pulang juga.

Ya, sejak kedatangannya di tempat ini dua tahun lalu, Lalita belum pernah mengambil cuti. Bahkan saat lebaran, Lalita dengan senang hati menggantikan para pegawai yang libur mudik. Gadis itu tak keberatan sama sekali. Justru dengan cara itulah dia bisa melupakan separuh jiwanya yang kini entah dimiliki oleh siapa itu.

“Sana, pulang... Lebaran kemarin kamu juga menggantikan Bu Lis yang lagi mudik.”

“Tapi 4 hari lagi kan jadwalnya pusling sama Mas Wira,” Lalita masih juga teguh pada pendiriannya,   tidak ingin pulang kampung.

“Kita sudah pusling puluhan kali. Bosan. Pusling sama anak praktek, saja deh. Siapa itu namanya?”

“Mita?”

“Betul... Sama Mita saja deh, lebih cakep pula, hehehe...” Wira memamerkan deretan gigi putihnya  dan menatap mata Lalita penuh isyarat.


Lalita tersenyum, dia tahu betul pemuda itu hanya berusaha meyakinkan agar dia pulang. Wira memang selalu mengerti dirinya. Hanya Wira yang tidak pernah protes saat Lalita hanya tersenyum dan mengangguk waktu diajak bicara. Pegawai yang lain selalu menanyainya panjang lebar, termasuk siapa pacarnya dan kapan menikah. Hanya Wira yang tidak melakukannya. Setidaknya itu yang dipikirkan gadis pendiam itu tentang laki-laki di hadapannya. Karena itulah Lalita selalu nyaman melakukan pusling bersama Wira. Kenyamanan yang sama seperti yang dia dapatkan saat bersama laki-laki yang paling dikasihinya. Tidak. Gadis itu menyangkal apa yang dirasakannya sendiri. Hanya ada satu laki-laki. Ya, hanya satu.

***

Rumah bercat merah muda itu masih sama seperti dulu. Pintu tertutup dan tampak sepi. Memang rumah itu kini hanya dihuni Ibu dan ayah Lalita. Kedua kakak Lalita sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Adiknya pun kabarnya sudah setahun belakangan tidak pulang karena mendapat beasiswa studi di Jerman. Praktis, rumah menjadi sepi ditambah tanpa kehadiran Lalita yang terkesan minggat itu.

“Namanya, Hangga. Seorang penerbang. Ibuk ngerti, dia baik dan cocok buat kamu.” Wanita yang  tahun ini genap berusia setengah abad lebih sewindu itu menyodorkan foto pria gagah dengan    seragam khas angkatan udara itu.

“Lalita pulang bukan karena setuju, Buk...” Lalita masih gigih menolak permintaan ibunya.

“Lalita.... Dimas akan menikah sebentar lagi. Dia nggak akan kembali pada kamu. Berhentilah  menunggu.”

 “Ibuk ngerti darimana? Ibuk bertemu Dimas?”

“Dua minggu lalu Dimas kesini. Dia ingin kamu hadir di resepsinya nanti. Bagaimanapun dia nggak  ingin kamu memaafkan dia.”

Mata Lalita mengembun. Dia tak menyangka akan seperih ini. Sesuai namanya, Dimas, yang berarti yang terkasih. Pemuda itu tempatnya menitipkan separuh jiwanya tiga tahun yang lalu. Laki-laki yang paling dikasihinya di dunia ini, tentu setelah ayahnya, akan menikah dengan perempuan yang bukan dirinya dan meninggalkannya. Pikirannya tidak bisa membayangkan lebih jauh dari itu.

Lalu, bagaimana dia bisa memaafkan laki-laki yang sudah seenaknya datang dan pergi itu? Bagaimana dia bisa memaafkan laki-laki yang bahkan tak memberikannya kesempatan untuk bicara dan bertemu sebelum menghilang? Bagaimana caranya akan memaafkan Dimas yang bahkan tak mengatakan putus atau menyuruhnya menanti itu dan kini muncul akan menikah dengan perempuan yang bukan dirinya? Bagaimana? Lalita hanyut dalam emosinya.

“Ini undangannya, dan nomor telepon Dimas. Kalo kamu bisa hadir, dia meminta kamu buat  meneleponnya...”

“Buk....” Ujar Lalita lirih. “Lalita ingin minta tolong sesuatu sama Ibuk...”

Sejenak wanita itu bingung, menerka-nerka apa yang sedang Lalita pikirkan. Tapi kemudian senyum pun menyungging di bibirnya.

“Boleh, tapi Lalita harus janji ya...”

***

“Kenapa bukan aku yang menjadi perempuan beruntung itu?” Tanya Lalita pada pemuda berkacamata yang sedang memberi makan burung-burung dara di sebuah taman, tempat semua kenangan indah mereka terukir di masa lalu.

Tak ada jawaban. Hanya terdengar kepak sayap burung dara yang terbang kesana kemari.

“Sejak awal aku selalu bilang padamu, kalau aku....”

“Ya, kamu tidak ingin jatuh cinta lagi. Kamu sudah muak dengan makhluk yang menurutmu jahat  itu.” Pemuda itu menyahut kalimat yang ingin diucapkan Lalita.

“Lalu kenapa kamu datang dengan membawa sejuta harapan?” Lalita berusaha menahan agar butiran  embun di matanya itu tidak jatuh.

“Ya, aku bersalah,”

“Lalu apa alasanmu, datang tanpa permisi ke hidupku. Menawarkan kenyamanan yang tidak pernah  kudapatkan dari pria manapun, dan membawa sejuta asa yang lalu ikut menguap bersama          kepergianmu?”

Lagi-lagi tak ada jawaban. Lalita masih sekuat tenaga menahan air matanya. Tapi mendung sudah terlanjur bergelayut di wajahnya.


#bersambung dulu ya. Hihihi....



NB : Membuat cerpen yang dipost di blog itu bikin saya nggak pede. Tapi, berhubung udah capek-capek bikinnya, nggak karuan pun tetap saya post. Katanya harus pede, ya nggak sih? Hahaha....


Kamis, 18 Februari 2016

Nggak Pede Sama Tulisanmu? Sini Masuk, Saya Juga Sama Nih....



Walaupun menulis itu udah jadi hobi saya sejak kecil (setelah makan dan tidur tentunya), tak bisa dipungkiri kalo saya masih suka minder sama tulisan saya sendiri. Begitu mindernya, bahkan saya diam-diam bikin blog ini, nulisnya pun diam-diam (yaiyalah, masa mau sambil teriak-teriak, hellooow...).

Tapi semua berubah setelah negara api menyerang secara kebetulan ada seseorang dengan akun Facebook bernama Bang Syaiha, posting tulisan blognya di grup Komunitas Bisa Menulis yang sejak lama saya menjadi silent rider di dalamnya. Isi postingannya kurang lebih adalah, minder sama tulisanmu? Coba One Day One Post.

Eittss.... Saya banget ini. Langsung deh saya meluncur ke blog beliau, membaca dengan nikmat apa yang ditulis beliau, dan akhirnya saya merenung sendiri. Maklum, jones (baca : jomblo with happiness) jadi nggak ada pacar buat diajak merenung bersama. Dan dari hasil merenung saya yang lama di bilik merenung, akhirnya saya memutuskan akan mencoba saran beliau untuk one day one post, salah satunya lewat postingan ini.

Dalam blog beliau, Bang Syaiha membeberkan kiat agar kita nggak minder sama tulisan sendiri dan gimana biar keterampilan menulis semakin meningkat. Gimana caranya? Ini saya kasih tau, tapi versi pemahaman saya lho.

Tulisan kita itu ibarat anak


Begitu kata Bang Syaiha cara mengatasi minder kita sama tulisan sendiri. Iya, jadi tulisan kita itu anak kita, dan kita adalah orangtuanya. Bukankah orangtua menyayangi anaknya tanpa syarat? Betul. Sejelek apapun anaknya, orangtua nggak akan malu mengatakan kalo itu adalah anaknya bukan? Karena itu, sejelek apapun tulisan kita, kita musti bangga. Belum tentu orang lain bisa menulis seperti yang kita tulis. Betul?

Jangan ragu buat posting tulisan kita


Jelek? Nggak masalah. Keep posting aja teman-teman. Biarpun dibaca masih amburadul, nggak karu-karuan, nggak masalah kok. Dari situ kita akan semakin terlatih untuk menulis yang baik dan menarik. Saya merasakan banget sih. Takut ketika postingan kita dibaca banyak orang, kemudian diketawain, dicibir, atau diapain lah. Menurut Bang Syaiha, justru itu bisa menjadi koreksi terhadap tulisan kita. Kalo ada saran baik, diterima dan jadikan masukan. Terus kalo orang nggak suka sama postingan di blog kita gimana? Terserah lah. Blog saya, suka-suka saya donk mau nulis apa. Hihihi. Betul nggak?

Banyak membaca dan menulis


Nggak diragukan lagi, seorang penulis harus banyak-banyak membaca lho. Menurut saya, banyak membaca itu segudang manfaatnya. Ayat Al-Quran yang turun pertama aja berbunyi, Iqra' yang artinya bacalah. Dengan membaca wawasan kita bakal bertambah lho, kosakata juga diksi yang bisa kita pilih dalam menulis juga akan semakin bervariasi. Setelah itu rajin-rajinlah menulis (lebih tepatnya mengetik sih, hehehe) biar skill menulis meningkat. Saya juga lho, lama nggak menulis jadi kaku banget. Bikin bercandaan garing, nulis semrawut, paling parah bikin cerita selalu nggak ada endingnya. Hehehe.

One Day One Post

Ini nih yang super. Kalo bisa, satu hari satu postingan. Tujuannya sih biar makin terampil menulis. Kenapa kok setiap hari? Menurut saya sih progressnya mudah dilihat kalo tiap hari. Bandingkan deh, pisau yang tiap hari diasah sama yang diasahnya jarang-jarang tajam yang mana hayo... Menurut saya begitu sih. Hihihi.

Jangan bandingkan tulisan kamu sama tulisan orang lain


Kalo yang ini tambahan yang ada di kolom komentar blognya Bang Syaiha. Menurut saya betul banget lho ini. Semakin kita membandingkan tulisan kita sama tulisan orang lain, maka semakin minder lah kita. Karena, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Hihihi. Misalnya, tulisan saya yang amburadul ini saya bandingkan sama tulisan Tere Liye? What? Level kecantikannya bagaikan saya sama Raisa. Sebelas duabelas, eh jaauuhh maksudnya. Selain itu, setiap orang pasti punya ciri khas tulisannya masing-masing. Itulah yang membuat dunia menulis itu berwarna. Betul nggak nih?

Jadi nggak ada yang instan di dunia ini. Mie instan aja perlu direbus 3 menit biar matang. Lho, lho? Nggak nyambung. Biarin. Intinya semua butuh proses. Untuk menghasilkan tulisan yang bagus dan menarik, butuh latihan yang banyak. Kesalahan itu wajar. Setiap orang pasti pernah bikin suatu kesalahan. Saya juga sering bikin banyak kesalahan sehingga harus mengulang ujian. Hikss.... #curhat

Nah, kira-kira begitulah yang saya pahami setelah membaca postingan Bang Syaiha dan merenung sekian lama. Teruntuk Bang Syaiha, siapapun anda, dimanapun anda berada, saya mengucapkan terimakasih banyak atas motivasinya. Semoga selalu dalam rahmat dan lindungan Allah SWT dan teruslah menulis untuk keabadian. Oke, sipp !!!




Sumber :

Blognya Bang Syaiha, ditulis ulang dengan perubahan seperlunya dan pemahaman penulis. Kalo ada salah, mohon maaf ya :-)

Gambar dari Google
Copyright © 2014 Keehh's